Arab Hitam, Bercinta Keras dan Liar
Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Dan kubuka celana pantai. Simontok Dari iramanya bukan sedang berjalan. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Bicara apa? Agar kejadian kemarin terulang. Aku memegang teteknya. Dingin. Ia cukup lama bermain-main di perut. Wajahku mulai panas. Atau mau gunting? Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Jam berapa aku berangkat. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat.



