Keponakan Tiriku Akhirnya Dihajar Hingga Teler

Namun bukannya langsung pulang, di jalan ia memintaku untuk berhenti di Dunkin’s. Bokeb Lengannya terulur meraih pundakku. Ia hanya balas menatapku dengan alis terangkat seolah mengulangi pertanyaan yang baru diajukannya. Waktu itu kulihat ia berdiri sendiri di depan pintu lorong yang menghubungkan ballroom dengan dapur. “Aku…aku ingin melihat..,” bisikku tanpa memandang wajahnya. “Aku…aku ingin melihat..,” bisikku tanpa memandang wajahnya. Ia menarik bibirnya, tersenyum dan berkata, “Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, bukan?”
Aku tak tahu harus berkata apa. Entah berapa lama kami berpagutan, dengan kedua lenganku memeluk tubuhnya. “Nice,” ia berbisik di pipiku. Rasa lemon bercampur aroma wewangiannya.

Keponakan Tiriku Akhirnya Dihajar Hingga Teler